Posts

Bersyukurlah dengan apa yang ada.

Jangan menunggu hari yang terbaik untuk melangkah. Karena setiap hari sangatlah berharga Jangan terpaku pada penyesalan masa lalu. Jangan melihat masa depan degan cemas, bimbang, dan takut. Karena Hidup adalah saat ini Anda saat ini adalah hasil dari pengalaman anda Keputusan yang baik diperoleh dari pengalaman, dan pengalaman didapatkan dari keputusan yang buruk Setiap waktu yang anda lewati dengan sia-sia hanya menjauhkan anda dan semakin jauh dari kata sukses Realitas kehidupan anda adalah deskripsi dari jiwa dan pikiran anda Berani mengambil keputusan, maka anda telah melangkah 10 kali lebih cepat untuk sukses Tuhan masih mencintai anda jika masih banyak cobaan dan tangan hidup yang datang menghampiri anda. Tuhan percaya bahwa anda mampu melaluinya. Maka jagalah kepercayaan itu Milikilah visi hidup anda. Karena orang tanpa visi bagaikan berjalan tanpa tujuan Mungkin menurut anda, anda bukanlah orang yang istimewa. Tetapi ingatlah seseorang di sana begitu mengistimewakan an...

"KEGAGALAN"

Sekali anda mengerjakan sesuatu, jangan takut gagal dan jangan tinggalkan. Orang-orang yang bekerja dengan ketulusan hati adalah mereka yang paling bahagia. Kegagalan dalam hidup itu adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah bagaimana kamu belajar dari kegagalan itu untuk berhasil. Berbahagialah ketika gagal karena disana Tuhan memberikan pelajaran ketulusan. Sebuah pelajaran bahawa bekerja bukan hanya untuk nikmat dan pujian, tapi untuk kebahagiaan. Rendah hati dan ketulusan, itu tanda kebahagiaan.

SUKU KAUM MURUT

"SUKU KAUM MURUT" Kaum Murut menetap di pedalaman dan kawasan tenggara Sabah serta wilayah perbatasan antara Kalimantan dan Sarawak. Suku kaum Murut adalah suku kaum ketiga terbesar di Sabah. Tempat tinggal mereka termasuk Tenom, Kemabong, Pensiangan dan Keningau. Dahulu mereka tinggal di dalam rumah panjang dan hidup harmoni dalam keluarga besar. Kebanyakan mereka adalah petani berpindah, pemburu dan penangkap ikan sungai. Mereka juga mejalankan pemungutan hasil hutan(damar, rotan dan madu lebah).Pada masa kini kaum murut sudah ada yang berkhidmat dalam sektor awam dalam bidang pendidikan, kesihatan dan pertahanan. Perkataan ‘Murut’ merujuk kepada kumpulan penduduk yang tinggal di lereng bukit atau tanah tinggi di Pedalaman Sabah. Murut terdapat di beberapa kawasan seperti Keningau, Tenom, Pensiangan, Sipitang, Kalabakan dan Kinabatangan. Kaum Murut terbahagi kepada Murut Tahol atau Tagal, Tidung, Timugon, Sembakung, Paluan, Bookan, Kalabakan, Murut Serundung dan Murut Lu...

Budaya Asal Usul Batu Punggul (Cerita Rakyat Daerah Sabah, Malaysia) Alkisah, pada zaman dahulu kala ada dua buah rumah panjang yang dipisahkan oleh sebatang sungai bernama Sungai Sepulut. Para penghuni rumah panjang tersebut berasal dari suku bangsa Murut yang merupakan penduduk asli atau pertama menetap di pedalaman Sepulut. Mereka masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, seperti: kepercayaan terhadap roh, sihir, takhayul, dan lain sebagainya. Untuk berhubungan dengan dunia gaib tersebut, mereka membuat semacam berhala yang dipercaya dapat menciptakan malapetaka apabila tidak mematuhi pantangan atau larangan yang telah dibuat oleh nenek moyang terdahulu. Suatu ketika, ada salah seorang penghuni rumah panjang mengadakan Tinauh, suatu upacara pemberian hantaran secara besar-besaran dari pihak laki-laki pada pihak perempuan calon mempelainya. Namun, saat upacara sedang berjalan tiba-tiba api yang digunakan sebagai penghangat padam. Sialnya lagi, persediaan kayu bahar di rumah tersebut juga sudah habis. Sang penyelenggara Tinuah bersama para penghuni rumah panjang lainnya lalu bermusyawarah untuk mencari jalan keluarnya. Dalam musyawarah itu akhirnya keluarlah keputusan bahwa mereka akan meminta kayu bakar pada tetangganya yang berada di rumah panjang di seberang sungai. Kemudian, salah seorang dari mereka diutus untuk menyampaikan permintaan itu dengan cara berteriak di tepi sungai. Sayangnya, waktu itu sedang terjadi banjir besar sehingga tidak ada yang berani menyeberang karena sangat berbahaya. Walhasil, walau terus menerus berteriak, bantun tidak kunjung datang. Para penghuni rumah panjang di seberang sungai tidak berani langsung menyeberang sambil membawa kayu bakar. Mereka bermusyawarah dahulu untuk menentukan cara yang tepat dalam memberikan bantuan pada tetangga mereka yang ada di seberang sungai. Dalam musyawarah itu dicapailah kesepakatan menggunakan anjing untuk membawa kayu bakar ke seberang. Mereka lalu mencari seekor anjing yang dianggap kuat, gagah, dan mampu menyeberang sungai. Setelah menemukan anjing yang dimaksud, di kepalanya diikatkan seutas tali yang pada bagian ujungnya diikatkan beberapa batang kayu bakar. Tetapi, ketika baru berenang beberapa meter dari tepi sungai, sang anjing hanyut karena tidak mampu melawan derasnya arus. Untungnya, dia dapat menepi kembali dan tidak hanyut ke hilir sungai. Kejadian ini ternyata dianggap lucu sehingga sebagian penghuni rumah panjang tertawa terbahak-bahak hingga lupa akan permasalahan yang sedang dihadapi oleh tetangga di seberang. Sementara para tetangga yang membutuhkan kayu bakar hanya diam tanpa merasa ada hal yang patut ditertawakan. Mereka takut kalau ikut mentertawakan akan terjadi hal-hal buruk yang akan menimpa karena dianggap tidak mengindahkan pantangan dan larangan nenek moyang. Setelah percobaan dengan anjing gagal, mereka bermusyawarah lagi dan sepakat untuk menggunakan seekor ayam jantan. Caranya adalah dengan mengikatkan tali pada kaki ayam yang ujungnya telah dipasang kayu bakar. Sang ayam lalu disuruh terbang menyeberangi sungai sambil membawa kayu bakar. Tetapi karena terlalu banyak membawa beban, ketika sampai di tengah sungai dia jatuh dan terbawa arus. Kejadian itu juga dianggap lucu sehingga menjadi bahan tertawaan lagi. Dan karena sudah tidak mempunyai ide lagi, mereka pun meneruskan pekerjaannya lagi tanpa mempedulikan tetangganya yang ada di seberang. Ada yang mulai memasak untuk makan keluarga, memberi makan hewan ternaknya, dan ada pula yang duduk-duduk di teras rumah panjang sambil mempermainkan seekor pacat. Kelakuan pacat yang dipaksa minum air tapai itu dianggap lucu sehingga mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyadari kalau perbuatan ini sudah menyalahi pantangan dan dapat menimbulkan malapetaka. Tidak berapa lama kemudian muncullah angin ribut, hujan lebat, dan petir yang sambar-menyambar seolah-olah sedang terjadi sebuah peperangan. Semua penghuni rumah panjang menjadi resah karena akhirnya sadar kalau telah melanggar pantangan dan larangan nenek moyang. Dalam suasana yang mencekam tersebut, dari arah langit tiba-tiba muncullah sesuatu yang berwarna hitam dan jatuh tepat di atas bumbung rumah panjang mereka. Seketika itu pula para penghuni beserta rumah mereka beralih ujud menjadi sebongkah batu yang sangat tinggi. Hal serupa juga terjadi pada ayam dan anjing yang digunakan sebagai alat untuk membawa kayu bakar. Mereka beralih ujud menjadi batu di sekitar tebing Sungai Sepulut. Keesokan harinya suasana menjadi tenang kembali dan air Sungai Sepulut tidak banjir lagi. Namun, karena tingginya batu yang berasal dari rumah yang dikutuk oleh nenek moyang, maka sinar matahari tidak dapat menyinari rumah panjang yang ada di seberang sungai. Oleh karena itu diutuslah 7 orang adik beradik untuk memapras batu tersebut agar sinar matahari dapat masuk. Orang pertama hingga keenam ternyata tidak dapat memapras karena batu sangat keras. Hanya si bungsu saja yang dapat memapras batu hingga tinggal punggulnya saja. Dan, karena hanya menampakkan punggulnya saja, maka batu itu selanjutnya dinamakan Batu Punggul.

Jj Jas MurutSapulut.blogspot.com

Kenali etnik murut (sabah) • SUKU KAUM MURUT • Ada banyak 'Versi' tentang asal usul nama kaum Murut diantaranya ada yang mengatakan bahawa istilah ‘Murut’ berasal dari akar kata ‘purut’ iaitu ‘berian’ atau ‘hantaran mas kahwin’. Ada juga pengkaji berpendapat istilah ini diperoleh dari ‘burut’ iaitu sejenis tumbuh-tumbuhan berubi yang digemari oleh orang Murut,Sebelum nama ini menjadi popular kaum Murut dikenali dengan berbagai nama yang dikaitkan dengan alam sekeliling. Masyarakat Murut terbagi mengikut sub etnik kepada dua golongan iaitu Murut dataran tanah rendah dan Murut dataran tanah tinggi. Murut dataran tanah rendah terdiri daripada Murut Nabai dan Murut Timugon yang mendiami tanah rata Keningau. Manakala Murut tanah tinggi pula adalah golongan yang terbesar mendiami kawasan tanah tinggi di Sabah. Golongan ini di klasifikasikan kepada ; 1) Murut Paluan tinggal di kawasan tanah tinggi berhampiran Sungai Padas di daerah Tenom,berkembang ke Sungai Dalit di sempadan Sook dan berkembang ke barat berhampiran Sipitang. 2) Murut Dalit yang juga dipanggil “orang bukit” menduduki kawasan Dalit dan Sook dan berkembang di sepanjang Sungai Penawan. 3) Murut Rundum yang menduduki kawasan persekitaran Sungai Tagul dan berkembang ke utara Rundum. 4) Murut Tahol yang berpindah dari persekitaran Sungai Tagul dan menduduki daerah bole, Kemabong ,Tenom dan Tomani. 5) Murut Kolod di kawasan Bole. 6) Murut Sapulut menduduki kawasan tanah tinggi selatan Sook hingga ke Sungai Sepulut dan Murut Pensiangan (Lagungan) yang menduduki kawasan Sapulut, berkembang hingga ke sempadan dan tenggara Serudong dan Sungai Kalabakan . Sebenarnya Murut Sapulut adalah dikenali sebagai Murut Tagal. Terdapat Keunikan tersendiri dalam Adat upacara perkahwinan bagi suku kaum murut ,dimana sudah menjadi adat turun-temurun dalam perkahwinan dimana Pihak pengantin Lelaki di kenakan ‘barian sampai mati’. Dalam pengertian adat “Barian Sampai Mati” ialah Barian atau dalam bahasa Melayu “Mas Kahwin” dan dalam bahasa Inggeris “Dowry”. Barian ialah nama yang diberi oleh masyarakat Murut bagi menunjukkan mas kahwin ataupun barang-barang hantaran daripada keluarga pihak lelaki kepada keluarga pihak perempuan semasa perkahwinan berlangsung.Oleh demikian, “Barian Sampai Mati” bermaksud mas kahwin atau barang-barang hantaran yang dituntut atau diminta oleh keluarga pihak perempuan daripada keluarga pihak lelaki bermula dari saat perkahwinan sehingga ke akhir hayat. Selain daripada itu, dahulu mereka mempercayai amalan anismisme iaitu setiap pokok, batu, sungai dan bukit mempunyai roh sendiri. Kini, kebanyakan suku kaum Murut majoritinya beragama kristian. Kaum Murut meraihkan Perayaan #PestaKalimaran. Pesta Kalimaran ialah pesta sama seperti kaum KadazanDusun yang menyambut Pesta Kaamatan. Ia disambut selepas mereka menuai padi. Sehubungan itu, suku kaum Murut juga terkenal dengan tarian tradisional iaitu Tarian Lansaran dan Tarian Mangunatip. Pakaian tradisional kaum Murut bagi lelaki ialah dikenali dengan pakaian puputul yang diperbuat daripada kulit kayu. Babaru puputul dipotong mengikut kepanjangan fesyen jaket. Aba puputul pula, cawat sepanjang dua meter diperbuat daripada isi kayu. Tupi sinulatan ialah perhiasan kepala yang diperbuat daripada kulit kayu. Manakala, pakaian tradisional kaum Murut bagi perempuan ialah pakaian mereka lebih terkenal dengan pakaian pinongkolo iaitu baju dan gaun yang panjang berwarna hitam yang dihiasi dengan manik-manik. '..Bersama memartabatkan Budaya serta Jatidiri Bangsa Borneo..."

Jj Jas MurutSapulut.blogspot.com